Monday, August 8, 2011

Beasiswa Kemerdekaan


Dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan Indonesia yang ke-66 pada 17 Agustus 2011 yang secara kebetulan jatuh di tengah bulan Ramadhan ini, Pray For Indonesia melakukan suatu kegiatan penggalangan dana bertajuk ‘Beasiswa Kemerdekaan’. Lewat program ini Pray For Indonesia menggalang dana yang hasilnya akan digunakan untuk memberikan beasiswa kepada siswa-siswa berprestasi yang kurang mampu secara ekonomi (semuanya berdomisili di kota Solo) berupa biaya pendidikan selama satu tahun. Dengan program ini diharapkan para siswa penerima beasiswa dapat belajar dan mengembangkan potensi akademik maupun akademiknya secara maksimal tanpa terkendala masalah pembiayaan. Biaya pendidikan disini tidak hanya semata pendidikan di sekolah tapi juga pengembangan diluar sekolah, karena para siswa ini sesungguhnya mempunyai potensi yang luar biasa yang jika dikembangkan akan sangat mendukung perkembangan mereka di masa mendatang.
Siswa-siswa calon penerima beasiswa diantaranya adalah Silvia Anggraeni, Rohana Diah Saputri dan Endah Agustin. Ketiganya adalah siswi kelas IX di SMP Negeri 21, Surakarta. Tahun lalu saat duduk di kelas VIII ketiganya masuk dalam 10 besar nilai teratas paralel. Ketiganya berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Orang tua Silvia adalah seorang buruh pembuat tas di sebuah home industry. Pak Sudadi, Ayah Rohana adalah seorang penarik becak di pasar legi, sedangkan ibunya, yang buta huruf hingga hari ini, mencari nafkah dengan berjualan bubur keliling. Sedangkan Endah, ayahnya merantau ke Sumbawa untuk bekerja dan ibunya bekerja sebagai buruh pabrik. Namun toh kekurangan di bidang ekonomi itu tidak lantas menjadikan ketiga siswi ini malas belajar, mereka justru meraih prestasi baik di sekolah dengan kondisi mereka yang pas-pasan secara ekonomi. Selain berprestasi di bidang akademis, ketiganya mempunyai minat dan potensi di bidang non-akademis, Silvia menaruh minat pada bidang multimedia sedangkan Rohana dan Endah menaruh minta di bidang akuntansi. Potensi-potensi ini juga lah yang diharapkan bisa ikut dikembangkan lewat program ini, karena akan sayang sekali jika potensi mereka tidak dapat dikembangkan secara maksimal karena masalah biaya.
Anda juga tentunya bisa ikut membantu dalam memfasilitasi untuk mengembangkan ketiga adik-adik kita itu dengan berpartisipasi memberikan donasi dalam program Beasiswa Kemerdekaan ini. Partisipiasi anda ikut membantu masa depan mereka.

Untuk donasi bisa menghubungi ke nomer 0856 470 88558 / 0818 027 33183

Thursday, July 21, 2011

Buku Untuk Indonesia



Pray For Indonesia mengadakan kegiatan penyumbangan buku (buku apapun: buku pelajaran, majalah, buku cerita, dll) untuk teman-teman, adik-adik dan anak-anak kita di SD, SMP dan SMK Kemukus 2, Boyolali.

Untuk teman-teman yang ingin ikut berpartisipasi bisa langsung menghubungi 0856 470 88558 (Arthur) atau 0818 027 33183 (Ratu). Atau bisa langsung mengirimkan buku sumbangan ke alamat: Jl.Cempaka 6/19, perumnas Palur, Karanganyar 57772.

Sunday, June 12, 2011

Pray For Indonesia @ Kemalang, Klaten









Penggalangan Dana Untuk Merapi @ Bundaran HI, Jakarta






Penggalangan Dana Untuk Merapi @ Solo, 30 Oktober 2010






Penggalangan Dana Untuk Merapi @ Solo 29 Oktober 2010







Pray For Indonesia @ Metro Siang Metro TV

video

Metro TV mengundang Ratu Patimasang, salah satu founder Pray For Indonesia pada program Metro Siang

Dibalik Pray For Indonesia - Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta: Slogan Pray for Indonesiamenjadi perbincangan hangat di mana-mana. Di jejaring sosial, seperti twitterPray for Indonesia bahkan menjadi topik hangat, seiring musibah yang menimpa negeri ini secara bertubi-tubi.

Tiga aktivis Pray for Indonesia, yakni Ratu Fatimasan, Arthur Garinca, dan Amri menjadi tamu dialog Liputan 6, Sabtu (30/10) pagi. Mereka menceritakan seputar terbentuknya komunitas Pray for Indonesia, yang belakangan menjadi semangat tersendiri buat sejumlah kalangan bangkit dari keterpurukan.

"Sebenarnya Pray for Indonesia dibentuk pada Mei 2010. Berawal dari rasa prihatin terhadap berbagai tindak kekerasan yang terjadi di sini. Lalu tak lama muncul berbagai bencana, dari Wasior, Mentawai, dan Merapi," ujar Ratu Fatimasan, yang sehari-hari bekerja di Bali.

Keprihatinan sesama aktivis jaringan sosial itu kemudian mengemuka. Bersama sejumlah teman, termasuk Arthur, mahasiswa Universitas Negeri 11 Maret Solo, Jawa Tengah, Ratu membawa Pray for Indonesia menggelinding. Sloga mereka menjadi harapan untuk membawa bangsa ini bangkit.

"Doa adalah hal yang paling kecil dan bisa dilakukan semua orang secara spontan. Karena itu kita kemudian kami memakai Pray for Indonesia," jelas Arthur.

Menurut Amri, sejak saat itulah, dukungan terhadap Pray for Indonesia terus bertambah. Tak hanya dari dalam negeri, sejumlah selebritas dunia juga menyatakan dukungannya. Dari Justin Bieber sampai Tom Cruise.

Baik Ratu, Arthur, maupun Amri berharap, Pray for Indonesia bisa sebagai wadah semua orang yang bertujuan membuat Indonesia lebih baik lagi. Caranya dengan bersama-sama membantu mereka yang memang memerlukan bantuan.

"Seperti yang dilakukan komunitas di Solo. Mereka turun ke jalan menggalang dana untuk korban bencana. Ada juga yang bersedia menjadi relawan untuk korban Merapi," kata Ratu.

Ratu berharap, berbagai elemen bangsa Indonesia bisa percaya diri dan terus melakukan hal positif. "Sebab, Tuhan pasti tidak tidur. Tuhan akan melihat hal itu semua," ujar Ratu.(ULF)



http://berita.liputan6.com/sosbud/201010/304027/Di.Balik.ltigtPray.for.Indonesialtigt

Pray For Indonesia @ Liputan 6 Pagi SCTV 31 Oktober 2010

video

http://tv.liputan6.com/main/read/3/1040893

Tanggal 31 Oktober 2010, Liputan 6 Pagi SCTV mengundang dua founder,Arthur Garincha Arsono dan FX Indria Ratu Patimasang dan Lathiful Amri, seorang orang aktivis Pray For Indonesia untuk sedikit 'ngobrol' tentang apa dan bagaimana Pray For Indonesia itu bermula.